Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2017

Kesalahan siapa yang seharusnya dimaklumi? Orang Kaya atau Orang Baik?

Sedari kecil saya diajari bahwa orang salah itu salah, dijelaskan dimana kesalahannya, dimaafkan, namun tetap harus menerima hukuman atas kesalahannya. Nenek saya ('Ma) dari garis mama adalah salah satu wanita yang paling tegas yang saya kenal. Dia tidak pernah membela yang salah, selalu ditegur bila melihat hal yang tidak beres, melihat konsekuensinya dan menghukum kami para cucunya bila melakukan kesalahan. (Ingat saya bahkan hewan peliharaan pun takut dan segan dengan beliau).

Nenek saya tidak pernah menghukum yang salah, kalau ada diantara kami yang mengganggu orang lain, pasti akan kena marah, kalau dua orang cucu berkelahi, dua-duanya dihukum karena yang memancing dan dipancing dua-duanya salah. Kalau ada cucu laki-laki yang memukul cucu perempuan, hukumannya lebih berat lagi :). Mendekati Imlek saya selalu ingat ketika hari pertama kita harus datang, mencium pipi kiri dan kanan serta dahinya 'ma. Terus dia akan mendoakan kami satu persatu sebelum memberikan angpao, walaupun ketika kecil, kami lebih suka angpao-nya daripada doa-nya. Hehehe :D

Nah, beberapa saat lalu saya tergelitik ketika mendengar sebuah kisah seorang pelajar miskin yang kembali untuk membangun desanya. Pelajar ini sangat pintar, dan dia kembali ke desanya dengan cita-cita yang mulia untuk membangun desanya. Diwaktu yang sama, seorang anak kaya juga selesai sekolahnya dan pulang ke desanya untuk mengambil alih usaha keluarganya (alih alih sebenarnya ingin berfoya-foya dengan kekayaan timbunan orang tuanya). Disaat yang sama, desa sedang paceklik. Mereka kekurangan air yang sayangnya sangat dibutuhkan untuk mengairi kebun dan sawah masyarakat desa. Dua orang sarjana ini diminta pendapatnya untuk menyelesaikan masalah. Sarjana pertama adalah si pelajar yang pintar namun miskin. Dia memaparkan untuk membangun saluran air dan bla...bla...bla... yang efeknya akan menjadi jangka panjang. Sedangkan si sarjana anak orang kaya memberikan informasi yang membingungkan dan tidak jelas intinya tiada satupun yang memahami apa yang dia jelaskan. Namun dia kaya, artinya kata-katanya lebih penting bagi para penduduk desa (yang sedang berusaha menjilatnya).

Singkat cerita, kata-kata si anak kayalah yang diterima. Sehingga si pelajar yang merasa kecewa pergi ke kota untuk merantau dan mencari jalannya sendiri. Ide, ilmu serta kepintarannya tidak dibutuhkan didesanya, hanya karena dia miskin. Sekian tahun kemudian dia kembali. Kali ini dengan mobil mewah serta uang yang banyak didompetnya. Dia membuat bangunan megah untuk orang tuanya dan dia berdoa dikuil keluarga. Seketika kedatangannya membawa kehebohan sendiri dan banyak tetua yang mengundangnya untuk menghadiri pertemuan desa. Ternyata, kali ini masalahnya masih sama, yaitu paceklik yang melanda desanya dan beberapa desa tetangga. Si pelajar yang sudah menjadi kaya ini penasaran apakah memang benar hanya uang yang dilihat oleh para tetua dan masyarakat desanya, sehingga dia bersiasat dengan memberikan ide yang paling ngawur untuk mengatasi paceklik. Dan ternyata para tetua dan masyarakat desanya terdiam, saling toleh kemudian bertepuk tangan tanda setuju. Kembali mereka memilih idenya karena kali ini dia lebih kaya daripada si sarjana abal-abal yang tadinya anak orang terkaya didesa mereka.

So, apakah orang kaya boleh melakukan kesalahan? Bagaimana kalau orang baik yang melakukan kesalahan? Bagi saya pribadi salah itu salah. Siapapun yang melakukannya, kesalahan itu tetaplah menjadi sebuah kesalahan. Namun karena kita adalah manusia yang memiliki hati nurani, maka kesalahan itu dibedakan menjadi banyak tingkatan. Bukankah Tuhan juga membuat Neraka yang bertingkat untuk berbagai kesalahan yang diperbuat?

Sejak ribuan tahun yang lalu, yang dijadikan tiang pegangan adalah peraturan yang disepakati menurut adat, kultur budaya serta norma didalam masyarakat. Abad ke-17 sebelum Masehi, Raja Hammurabi yang merupakan Raja Babilonia yang ke-6 (atau ke-7) seingat saya, telah membuat prasasti peraturan yang menjadi hukum di kerajaannya. Dan sejak saat itu, tata aturanlah yang menjadi tongkat sebuah hukuman yang menjadi bagian dari penegakan aturan dilakukan. Seringkali kita yang merasa pernah berbuat "baik" berharap dimaklumi dalam kesalahan yang kita buat. Dan menjadi tersinggung bila kesalahan kita diangkat ke permukaan. Wajarkah demikian?

Sebaik-baiknya manusia pastilah pernah melakukan kesalahan. Dan bila kesalahan itu merugikam orang/pihak lain, maka kita harus mau menerima kritikan bahkan hukuman atas perilaku tersebut, walaupun demikian, seringkali orang baik dianggap khilaf dalam melakukan kesalahannya sehingga lebih dapat dimaklumi. Demikian dengan orang yang berduit, uang tidak menyelesaikan semua masalah, termasuk dalam berbuat kesalahan. Namun kadang uang membantu bila terjadi kerugian materi. Tetapi ini tetap tidak dapat dibenarkan bila hanya karena uang maka dimaklumi saja kesalahannya. Dan seringkali dalam sebuah perihal ganti rugi, kerugian diganti dengan materil dan moril yang diakibatkan oleh kerugian tersebut. Dan kerugian moril yang ditimbulkan bisa jadi tidak mampu dinilai dengan uang.

Kalau begitu saya memilih yang bagaimana? Saya memilih membenarkan orang yang benar. Dalam keseharian kita, seringkali kita bertemu dengan manusia lainnya. Dan bila kita diberikan tanggung jawab dalam suatu hal tertentu, khususnya sebagai pimpinan dari suatu hal, gesekan dan permasalahan pasti selalu terjadi. Orang yang baik adalah orang yang memberitahukan letak kesalahan orang lain dan memastikan bahwa orang tersebut paham dan tau cara yang benarnya bagaimana. Bila kita membiarkan/mendiamkannya, maka kita akan mempengaruhi keseluruhan organisasi yang sudah berusaha melakukan semua hal dengan benar. Orang baik dan orang yang berduit (menghasilkan duit) belum tentu selalu benar, kecuali mereka memang melakukan hal yang benar. Kebijakan kita mungkin tidak populis dan bisa jadi menimbulkan ketidakpuasan. Namun selama itu adalah kebenaran yang sudah dibuktikan sendiri, Tuhan akan menyertai kita mendapatkan kebaikan dalam menjalankan kebenaran.

Pintu maaf harus selalu dibuka oleh setiap manusia kepada siapapun. Karena semua manusia pasti masih bisa melakukan kesalahan. Namun ini bukan berarti bahwa setelah dimaafkan, posisi yang termaafkan akam tetap sama didalam hati dan pikiran kita. Apalagi bila hal ini menyangkut kerugian bagi pihak lain atau menyalahi aturan atau sesuatu yang bernilai fatal. Tidak ada satupun manusia yang kebal dari aturan, ini akan menjadi tidak adil bagi manusia lainnya. Sehingga si pemohon maaf harus menyadari pula konsekuensinya sebelum dia melakukan kesalahan. Karena kesalahan itu terjadi hanya karena dua hal, yang pertama adalah dia tidak tahu apa yang dilakukan dan yang kedua adalah salah dalam melakukannya. Bila kedua hal ini sudah dijelaskan dan masih melakukan kesalahan, maka itu berarti pihak yang melakukan kesalahan lalai dan menyepelekan hal tersebut.

Saya percaya semua manusia bisa melakukan semua hal, yang dipertanyakan adalah kemauannya. Kalau dia serius mau, maka kesalahan itu akan terjadi dalam angka yang minimal. Bukam berulang-ulang dan rutin terjadi. Semoga setiap manusia menyadari hakikat kehidupannya, bahwa mereka adalah bagian dari puzzle manusia lainnya. Dan bila mereka memutuskan untuk seenaknya, maka kerugian akan terjadi dipihak lainnya yang bisa jadi selain tidak diharapkan, juga bila kepekaannya kurang, maka tidak akan disadari olehnya.

Semua manusia bisa merasa benar, tapi tanyakan kepada diri masing-masing apakah sudah benar-benar "benar" apa yang kita lalukan? Ataukah hanya karena menuruti hal yang tidak sepantasnya diikuti. Semoga berkah berlimpah dalam setiap jalan yang kita lalui setiap harinya, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Gorontalo, 16 Jan 2017
Irfan utamin

Kesalahan siapa yang seharusnya dimaklumi? Orang Kaya atau Orang Baik?

Sedari kecil saya diajari bahwa orang salah itu salah, dijelaskan dimana kesalahannya, dimaafkan, namun tetap harus menerima hukuman atas kesalahannya. Nenek saya ('Ma) dari garis mama adalah salah satu wanita yang paling tegas yang saya kenal. Dia tidak pernah membela yang salah, selalu ditegur bila melihat hal yang tidak beres, melihat konsekuensinya dan menghukum kami para cucunya bila melakukan kesalahan. (Ingat saya bahkan hewan peliharaan pun takut dan segan dengan beliau).

Nenek saya tidak pernah menghukum yang salah, kalau ada diantara kami yang mengganggu orang lain, pasti akan kena marah, kalau dua orang cucu berkelahi, dua-duanya dihukum karena yang memancing dan dipancing dua-duanya salah. Kalau ada cucu laki-laki yang memukul cucu perempuan, hukumannya lebih berat lagi :). Mendekati Imlek saya selalu ingat ketika hari pertama kita harus datang, mencium pipi kiri dan kanan serta dahinya 'ma. Terus dia akan mendoakan kami satu persatu sebelum memberikan angpao, walaupun ketika kecil, kami lebih suka angpao-nya daripada doa-nya. Hehehe :D

Nah, beberapa saat lalu saya tergelitik ketika mendengar sebuah kisah seorang pelajar miskin yang kembali untuk membangun desanya. Pelajar ini sangat pintar, dan dia kembali ke desanya dengan cita-cita yang mulia untuk membangun desanya. Diwaktu yang sama, seorang anak kaya juga selesai sekolahnya dan pulang ke desanya untuk mengambil alih usaha keluarganya (alih alih sebenarnya ingin berfoya-foya dengan kekayaan timbunan orang tuanya). Disaat yang sama, desa sedang paceklik. Mereka kekurangan air yang sayangnya sangat dibutuhkan untuk mengairi kebun dan sawah masyarakat desa. Dua orang sarjana ini diminta pendapatnya untuk menyelesaikan masalah. Sarjana pertama adalah si pelajar yang pintar namun miskin. Dia memaparkan untuk membangun saluran air dan bla...bla...bla... yang efeknya akan menjadi jangka panjang. Sedangkan si sarjana anak orang kaya memberikan informasi yang membingungkan dan tidak jelas intinya tiada satupun yang memahami apa yang dia jelaskan. Namun dia kaya, artinya kata-katanya lebih penting bagi para penduduk desa (yang sedang berusaha menjilatnya).

Singkat cerita, kata-kata si anak kayalah yang diterima. Sehingga si pelajar yang merasa kecewa pergi ke kota untuk merantau dan mencari jalannya sendiri. Ide, ilmu serta kepintarannya tidak dibutuhkan didesanya, hanya karena dia miskin. Sekian tahun kemudian dia kembali. Kali ini dengan mobil mewah serta uang yang banyak didompetnya. Dia membuat bangunan megah untuk orang tuanya dan dia berdoa dikuil keluarga. Seketika kedatangannya membawa kehebohan sendiri dan banyak tetua yang mengundangnya untuk menghadiri pertemuan desa. Ternyata, kali ini masalahnya masih sama, yaitu paceklik yang melanda desanya dan beberapa desa tetangga. Si pelajar yang sudah menjadi kaya ini penasaran apakah memang benar hanya uang yang dilihat oleh para tetua dan masyarakat desanya, sehingga dia bersiasat dengan memberikan ide yang paling ngawur untuk mengatasi paceklik. Dan ternyata para tetua dan masyarakat desanya terdiam, saling toleh kemudian bertepuk tangan tanda setuju. Kembali mereka memilih idenya karena kali ini dia lebih kaya daripada si sarjana abal-abal yang tadinya anak orang terkaya didesa mereka.

So, apakah orang kaya boleh melakukan kesalahan? Bagaimana kalau orang baik yang melakukan kesalahan? Bagi saya pribadi salah itu salah. Siapapun yang melakukannya, kesalahan itu tetaplah menjadi sebuah kesalahan. Namun karena kita adalah manusia yang memiliki hati nurani, maka kesalahan itu dibedakan menjadi banyak tingkatan. Bukankah Tuhan juga membuat Neraka yang bertingkat untuk berbagai kesalahan yang diperbuat?

Sejak ribuan tahun yang lalu, yang dijadikan tiang pegangan adalah peraturan yang disepakati menurut adat, kultur budaya serta norma didalam masyarakat. Abad ke-17 sebelum Masehi, Raja Hammurabi yang merupakan Raja Babilonia yang ke-6 (atau ke-7) seingat saya, telah membuat prasasti peraturan yang menjadi hukum di kerajaannya. Dan sejak saat itu, tata aturanlah yang menjadi tongkat sebuah hukuman yang menjadi bagian dari penegakan aturan dilakukan. Seringkali kita yang merasa pernah berbuat "baik" berharap dimaklumi dalam kesalahan yang kita buat. Dan menjadi tersinggung bila kesalahan kita diangkat ke permukaan. Wajarkah demikian?

Sebaik-baiknya manusia pastilah pernah melakukan kesalahan. Dan bila kesalahan itu merugikam orang/pihak lain, maka kita harus mau menerima kritikan bahkan hukuman atas perilaku tersebut, walaupun demikian, seringkali orang baik dianggap khilaf dalam melakukan kesalahannya sehingga lebih dapat dimaklumi. Demikian dengan orang yang berduit, uang tidak menyelesaikan semua masalah, termasuk dalam berbuat kesalahan. Namun kadang uang membantu bila terjadi kerugian materi. Tetapi ini tetap tidak dapat dibenarkan bila hanya karena uang maka dimaklumi saja kesalahannya. Dan seringkali dalam sebuah perihal ganti rugi, kerugian diganti dengan materil dan moril yang diakibatkan oleh kerugian tersebut. Dan kerugian moril yang ditimbulkan bisa jadi tidak mampu dinilai dengan uang.

Kalau begitu saya memilih yang bagaimana? Saya memilih membenarkan orang yang benar. Dalam keseharian kita, seringkali kita bertemu dengan manusia lainnya. Dan bila kita diberikan tanggung jawab dalam suatu hal tertentu, khususnya sebagai pimpinan dari suatu hal, gesekan dan permasalahan pasti selalu terjadi. Orang yang baik adalah orang yang memberitahukan letak kesalahan orang lain dan memastikan bahwa orang tersebut paham dan tau cara yang benarnya bagaimana. Bila kita membiarkan/mendiamkannya, maka kita akan mempengaruhi keseluruhan organisasi yang sudah berusaha melakukan semua hal dengan benar. Orang baik dan orang yang berduit (menghasilkan duit) belum tentu selalu benar, kecuali mereka memang melakukan hal yang benar. Kebijakan kita mungkin tidak populis dan bisa jadi menimbulkan ketidakpuasan. Namun selama itu adalah kebenaran yang sudah dibuktikan sendiri, Tuhan akan menyertai kita mendapatkan kebaikan dalam menjalankan kebenaran.

Pintu maaf harus selalu dibuka oleh setiap manusia kepada siapapun. Karena semua manusia pasti masih bisa melakukan kesalahan. Namun ini bukan berarti bahwa setelah dimaafkan, posisi yang termaafkan akam tetap sama didalam hati dan pikiran kita. Apalagi bila hal ini menyangkut kerugian bagi pihak lain atau menyalahi aturan atau sesuatu yang bernilai fatal. Tidak ada satupun manusia yang kebal dari aturan, ini akan menjadi tidak adil bagi manusia lainnya. Sehingga si pemohon maaf harus menyadari pula konsekuensinya sebelum dia melakukan kesalahan. Karena kesalahan itu terjadi hanya karena dua hal, yang pertama adalah dia tidak tahu apa yang dilakukan dan yang kedua adalah salah dalam melakukannya. Bila kedua hal ini sudah dijelaskan dan masih melakukan kesalahan, maka itu berarti pihak yang melakukan kesalahan lalai dan menyepelekan hal tersebut.

Saya percaya semua manusia bisa melakukan semua hal, yang dipertanyakan adalah kemauannya. Kalau dia serius mau, maka kesalahan itu akan terjadi dalam angka yang minimal. Bukam berulang-ulang dan rutin terjadi. Semoga setiap manusia menyadari hakikat kehidupannya, bahwa mereka adalah bagian dari puzzle manusia lainnya. Dan bila mereka memutuskan untuk seenaknya, maka kerugian akan terjadi dipihak lainnya yang bisa jadi selain tidak diharapkan, juga bila kepekaannya kurang, maka tidak akan disadari olehnya.

Semua manusia bisa merasa benar, tapi tanyakan kepada diri masing-masing apakah sudah benar-benar "benar" apa yang kita lalukan? Ataukah hanya karena menuruti hal yang tidak sepantasnya diikuti. Semoga berkah berlimpah dalam setiap jalan yang kita lalui setiap harinya, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Gorontalo, 16 Jan 2017
Irfan utamin

Senin, 05 Desember 2016

Tuhan TIDAK PERNAH TERTUKAR dalam memberikan berkat

Selama perjalanan saya kali ini, saya bertemu, berbicara dan mendengarkan pengalaman berbagai orang yang saya temui langsung maupun tidak. Yang luar biasa adalah semua kisah itu mengerucut kepada satu bagian yang sama dalam kesimpulan saya. Sehingga saya merasa seakan Tuhan ingin menegur saya dalam kehidupan saya lewat kawan, sahabat, teman, kenalan, postingan FB dan kisah sukses yang setiap paginya selalu saya baca untuk memulai hari saya.

Yup, saya percaya bahwa Tuhan tidak pernah tertukar dalam memberikan berkat. Tuhan selalu sayang kepada orang yang tulus dan tidak hanya memikirkan isi perutnya sendiri. Tuhan akan memberikan apa yang Tuhan bisa berikan agar si "corong berkat" mampu menggenapi apa yang Tuhan mau, yaitu menghidupi orang-orang disekelilingnya.

Semua orang yang saya temui bercerita ketika mereka mengalami kesulitan dan yang luar biasanya dalam ketulusan mereka Tuhan memberikan berkat walaupun disaat-saat terakhir yang terlihat kurang bisa dipercaya.

Ada seorang karyawan yang tulus bekerja selama bertahun-tahun namun seakan "tidak terlihat" karena pekerjaannya yang selalu beres dan tepat waktu. Tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berkurang semangatnya walau dalam kondisi kesusahan. Tuhan memberkatinya dengan memberikan penerangan kepada atasannya dan suatu waktu yang bersangkutan dipercaya untuk memegang perusahaan cabang dikota lain hingga hari ini. Yang bersangkutan tepat 15th dipercaya sebagai pimpinan cabang dan target perusahaan tidak pernah meleset karena selain berdoa, yang bersangkutan selalu memikirkan bagaimana agar anak buahnya selalu mendapatkan pendapatan yang cukup dan tidak kekurangan, walaupun dia sendiri sudah sangat berkecukupan.

Ada seorang Ibu rumah tangga yang dipercaya oleh teman-teman arisan dan ibadahnya untuk mengelola keuangan mereka. Dengan tulus dia mencarikan cara agar uang tersebut "berbuah" dengan seijin bersama. Ini karena ada beberapa kawannya yang dicerai maupun ditinggal mati suami mereka. Hari ini dana tersebut telah menjelma menjadi sebuah perusahaan "berkecukupan" dengan omzet milyaran perbulannya.
Ada seorang pengusaha yang berkali-kali jatuh bangun karena setiap kali berada diatas, yang diinginkan hanyalah kenyamanan bagi dirinya sendiri. Tidak pernah memikirkan apa yang terjadi pada bawahannya. Hingga suatu waktu yang bersangkutan saat kesulitan, dibantu oleh mantan karyawan lamanya yang sudah sukses, yang sebelumnya pernah dibantu olehnya saat mengalami kedukaan. Dia kemudian berpikir bahwa bila hanya sedikit kebaikan dapat membuat efek yang luar biasa bagi orang lain, maka bagaimana dengan banyak melakukan kebajikan? Sehingga sejak itu dia terus berbuat kebajikan apapun yang mungkin dilakukan. Tuhan kemudian memberikan banyak kemudahan dan berkat sehingga saat ini beliau lebih sukses dibandingkan yang sebelum-sebelumnya.

Tuhan tidak pernah keliru memberikan berkat, tidak pernah ada kisah "berkat yang tertukar". Hanya seringkali manusia kebanyakan tidak mau bersyukur dengan berbagi pada sesama. Tidak mau memikirkan orang lain, tidak mau membantu orang lain. Masalah kemudian bantuan itu diterima, bantuan itu berhasil atau bantuan itu tepat guna/sasaran, itu bukan lagi bagian kita saja. Tetapi bagian yang akan dilakukan oleh si penerima bantuan dengan seijin Tuhan.

Dengan kita perhitungan terhadap berkat kita selama ini, terus menerus menghitung hutang orang lain bahkan yang sekecil-kecilnya kepada kita akan membuat kita bahagiakah? Membuat kita bertambah kayakah? Membuat berkat kita bertambah banyak?

Saya pernah mengalami kejatuhan, dan sayangnya saat itu banyak orang yang memilih menjauh dari saya. Bantuan datang dari orang-orang yang tidak saya duga, tidak saya perhitungkan. Saya menerima dengan senang hati kemudian berusaha melakukan sesuatu disekeliling saya walaupun tidak luar biasa. Ada saat dimana saya merasa berjalan sendiri dalam kegelapan, ketika apa yang saya inginkan tidak mampu terwujud bukan karena ketidak mampuan, tetapi karena ketidak pedulian orang yang ingin saya bantu.
Tuhan tidak menganjurkan kita menjatuhkan diri kita kebawah dan kemudian "merayap bersama" dengan orang-orang yang ingin kita bantu. Tetapi Tuhan menganjurkan kita mengulurkan tangan, membersihkan tubuhnya dan membantu mereka berdiri diatas kaki sendiri.

Saya pernah ditipu oleh orang-orang yang saya bantu, rasanya kecewa sekali ketika kita diperdaya. Apakah kemudian kita akan berkurang berkatnya ketika orang-orang tidak berbudi itu berhasil memeprdaya kita? Tentu saja tidak. Sekali lagi karena Tuhan tidak pernah tertukar dalam memberikan berkat-Nya. Kalau kita berhasil ditipu oleh orang lain, bukan karena mereka hebat dalam memperdaya. Namun karena kita terlalu mempercayai mereka yang sayangnya, tidak pantas mereka terima.

Dalam beberapa tahun terakhir saya berkesempatan melihat beberapa orang yang saya sebutkan diatas. Mereka tidak bersyukur dengan apa yang mereka punya, dan mereka selalu mencari jalan untuk membenarkan apa yang pernah mereka lakukan. Tuhan sekali lagi tidak pernah tertukar memberikan berkat. Bagaimana bisa Tuhan memberikan berkat kepada mereka yang setiap ada kemungkinan selalu berusaha menjatuhkan orang lain?

Saya bersyukur akan hari ini, akan apa yang pernah terjadi dalam kehidupan saya. Kalau boleh memilih, saya ingin menyembuhkan luka dan kekecewaan saya dan menjadi manusia positif "sempurna". Sayangnya itu tidak mungkin dan akan menjadi tidak bijak. Tuhan sedah memilihkan jalan terbaik bagi saya untuk srmua yang sudah lewat. Semua itu adalah berkat yang membuat kita semua mampu berdiri kembali hari ini. Tuhan masih sangat luar biasa percaya bahwa kita akan hidup dalam kebenaran-Nya dan membantu-Nya menggenapi apa yang terjadi dikemudian hari. Bahkan hanya sebuah senyum mampu menyelamatkan sebuah nyawa hingga sebuah peperangan.

Terima kasih Tuhan, Kong Tjo Thian Kung, Yang Mulia Para Sinbeng dan Para Buddha & Bodhisatva atas semua pencerahan dan pancaran berkah Dharma yang mulia. Semoga dikemudian hari kita mampu menjadi manusia yang lebih bijaksana dan terus berjalan dalam kebenaran :)

Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta
Pertama Kali Terbit 11 November 2016 - Kaoshiung, Taiwan - Undangan Kunjungan Taiwan Tourism

Berkat ada disepanjang perjalanan :)

Pada hari yang sangat cerah, kaca pembesar yang paling kuat pun tidak akan membakar kertas jika kita terus menggerakkan kaca. Tapi jika kita fokus dan menahannya, kertas pun terbakar. Itulah kekuatan konsentrasi.

Seorang pria sedang bepergian dan berhenti di sebuah persimpangan. Ia bertanya kepada seorang pria tua, “Ke mana jalan ini membawa saya?”
Orang tua itu bertanya, “Ke mana tujuan Anda?”
Pria itu menjawab, “Saya tidak tahu.”
Orang tua itu berkata, “Kalau begitu Anda bisa lewat jalan mana pun. Apa bedanya?”
Benar. Ketika kita tidak tahu ke mana kita pergi, semua jalan akan membawa kita ke tujuan kita.

Antusiasme tanpa arah arah, seperti api dan menyebabkan frustasi. Tujuan memberikan arah. Mungkinkah kita duduk di kereta api atau pesawat terbang tanpa tahu ke mana tujuan kita? Jawaban yang jelas, tentu saja tidak. Lalu mengapa ada orang yang menjalani hidup tanpa memiliki tujuan?

Kadang banyak yang heran ada orang "kecil" yang tidak disangka-sangka menjadi orang "besar". Saya nggak percaya bahwa itu sekedar keberuntungan semata (selama itu bukan lotre, undian dan segala sesuatu yang berbau demikian).

Saya pernah mendengar ada seorang ibu penjual makanan dikantin sekolah yang kecil mampu menyimpan uang sehingga bisa naik haji, saya juga pernah mendengar ada pengusaha besar dan sukses yang masa kecilnya susah dan miskin. Banyak orang membicarakan mereka, bahkan ada yang mengulas dalam sebuah tulisan entah di koran setempat bahkan skala Nasional dan International. Massa merasa takjub dengan hal-hal demikian, karena mereka menunjukkan kebahagiaan yang akhirnya mereka capai tanpa disangka-sangka, well, tanpa disangka-sangka oleh orang disekelilingnya. Tapi saya percaya pastinya sudah disangka oleh pelakunya sendiri, mereka yang mendapatkannya karena mereka sudah berjuang dan disiplin sangat keras untuk mencapai hari akhirnya mereka mendapatkan hal yang mereka mau.

Seorang ibu penjual makanan dikantin yang disiplin dan gigih impiannya pasti nggak akan boros-borosan mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu, minimal sampai dia selesai mengumpulkan biaya yang cukup untuk memenuhi impiannya. Dan mungkin bukan hanya sekedar itu, tapi juga diluar pekerjaan tetapnya sebagai penjual dikantin, dia masih menerima catering kecil-kecilan atau usaha sampingan lainnya.
Seorang anak miskin dan susah hidupnya yang mengerti impiannya pasti tidak akan bermalas-malasan disekolah, dia akan menikmati belajar dan sedapat mungkin menggunakan waktu yang dia punya untuk belajar. Setelah remaja kemudian membantu mencari pemasukkan tambahan untuk biaya sekolahnya, mencari kesempatan beasiswa dan sebagainya. Mengambil semua kesempatan yang ada yang memungkinkan untuk mencapai masa depannya.

Hidup tanpa tujuan sama seperti kayu lapuk yang terombang-ambing disungai. Terserah arus sungai dia akan dibawa kemana, tersangkut dimana dan hancur dimana. Semuanya tanpa rencana, tanpa usaha dan tanpa berbuat apa-apa, hanya mengikuti alur kehidupan, lahir, remaja seperti kebanyakan orang, dewasa, menikah, tua dan mati. Tidak meninggalkan jejak kehidupannya sama sekali bagi manusia lainnya, bahkan bagi keturunannya nanti.

Orang yang tepat berada ditempat yang tepat akan menghasilkan hal-hal luat biasa. Permasalahannya adalah tempat yang tepat itu selalu ada dimana-mana, hanya apakah kita bisa belajar menjadi orang yang tepat untuk menghasilkan sesuatu yang besar seperti impian kita.

Impian setiap orang berbeda-beda dan tidak dapat dipastikan, tapi sewajarnya setiap orang harus punya impian untuk dicapai. Kalau tidak, dimanapun kita berada hanya akan menjadi sekedarnya saja. Karyawan yang sekedarnya, pengusaha yang sekedarnya, aparat negara yang sekedarnya, guru yang sekedarnya, anak yang sekedarnya, ayah-ibu yang sekedarnya, dan semua lainnya yang sekedarnya saja. Apa enaknya menjalani hidup yang serba sekedarnya?

Impian harus diputuskan, target harus dikejar, hidup harus berbahagia, ibarat filosofi China tentang Fuk Luk Shou, Rejeki-Bahagia-Umur Panjang. Ketiga-tiganya adalah kesuksesan, mau sukses dalam rejeki, mau sukses dalam kebahagiaan atau mau sukses dalam umur yang panjang semua harus diusahakan. Tidak ada uang jatuh didepan rumah tanpa dicari sama sekali, tidak ada keluarga-anak-cucu bahagia karena tanpa usaha sama sekali, dan tidak ada umur panjang yang karena unsur "Hoki", mau sehat artinya harus olah raga, hehehehe.

Orang antusias tanpa tujuan ibarat pertandingan sepakbola tanpa Gawang. 22 orang berlarian kesana-sini tanpa tujuan, hanya menghabiskan waktu, tenaga dan akhirnya menjadi frustasi. Tidak menarik bagi yang menonton, bahkan akan menjadi tidak menarik pula bagi pemainnya.
Jadi, Ibarat slogan iklan "kutahu yang kumau", maka harus demikianlah hidup kita. Sehingga suatu saat bila kita menoleh kebelakang, kita akan puas dengan semua record yang telah kita buat sepanjang kehidupan kita.

Happy weekend, semoga hari ini menjadi lebih baik lagi daripada kemarin. 

Semoga kita siap menerima semua berkat yang dikirimkan hari ini kepada kita semuanya :D
Pertama Kali Terbit 19 November 2016 Facebook a.n Irfan Wu Kwang Fuk

Minggu, 08 Maret 2015

Katak Tuli Dan Pikiran Positif

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari,
Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.
Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan
perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta.

Kemudian perlombaan dimulai, Secara jujur tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil ini akan bisa mencapai puncak menara.

Dari bangku penonton kemudian mulai terdengar suara-suara kecil yang berbisik-bisik,

“Oh, jalannya terlalu sulitttt!!"
"Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak”
"Panitia bego, tantangannya terlalu sulit, pasti niatnya agar nggak ada yang memenangkan pertandingan"
“Tidak ada kesempatan untuk berhasil, Menaranya terlalu tinggi…!!"
"Taroan ya, dijamin pasti nggak ada yang bisa berhasil kesana"
"Kasian katak-katak muda itu kemakan tipuan perlombaan"
"Hahaha, coba liat yang itu... yang itu juga... masih semangat-semangat, kita liat berapa lama ya...."
"Hadiahnya apa sih sampai mau-maunya ikutan lomba beginian?"
"Bah, parah kali tantangannya!!!"

Suara-suara yang tadinya hanya sekedar berbisik mulai menjadi suara yang keras dan mulai terdengar kearah lintasan perlombaan. Katak-katak yang tadinya memiliki keyakinan dalam dirinya dan dengan semangat berusaha mencari kemenangan mau tak mau mendengarkan pembicaran-pembicaraan tersebut. Dan kemudian yang sudah diprediksi akhirnya terbukti, Katak-katak kecil itu mulai berjatuhan satu persatu.

Sebagian besar katak berjatuhan dibawah, kemudian setengahnya lagi berjatuhan dikaki puncak karena melihat puncaknya yang tinggi. Sampai disini penonton mulai ramai membicarakan kembali ketidak percayaan mereka bahwa ada yang bisa menang. Tertinggal beberapa ekor saja yang masih semangat melompat untuk mencapai puncak. Namun karena tingginya puncak tersebut, maka sebagiannya lagi mulai bertumbangan. Kembali para penonton bersuara sumbang, dan kali ini tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan jelas-jelas menyuruh agar para peserta mundur saja daripada terluka.

Tersisa 1 ekor saja yang tetap semangat dan tidak peduli dengan apa yang dikatakan para penonton diarea tribun maupun sekeliling perlintasannya. Para penonton mencemooh betapa mereka tidak percaya bahwa dia akan menxapai puncaknya, bahwa tidak lama lagi dia akan berhenti dan tidak melanjutkan perlombaannya, toh semua lainnya sudah tumbang, tertinggal dia seekor saja.

Namun katak kecil tersebut tetap semangat, dia tetap tidak peduli. Ketika tinggal sebentar lagi mencapai garis finish, para penonton mulai bersorak. Mereka berkata yang sebaliknya,
"Tuh kan, aku bilang juga apa, pasti dia akan berhasil..."
"Nah, ada satukan minimal yang berhasil.... AYO... KAMU PASTI BISAAA!!!"
"Wah, memang dari pertama aku udah yakin hanya dia aja yang bisa berhasil. Liat kakinya bengkok sedikit. Itu tandanya katak sukses pemberani"
"Nah, akhirnya aku benar kan, nggak mungkin nggak ada satupun yang berhasil!"
"Nah, kalo tasi kita taroan, pasti aku menang. Aku sudah yakin bahwa dia pasti berhasil"
"Panitiannya memang pinter, sengaja buat efek psikologis sampai-sampai hanya 1 yang berhasil"
"Tapi emang mudah sih ya, katak-katak lain cemen banget sih nggak finish"

para penonton yang tadi mencemooh berbalik 180 derajat dengan kata-kata yang sebelumnya sebaliknya. Mereka kemudian memberikan sorak sorai dan semangat kepada si satu katak terakhir. Tapi katak tersebut tetap tidak peduli, dia tetap melompat hingga mencapai puncaknya. Ketika dia mencapai finish, sorak sorai bergema dan tepuk tangan terdengar dari bawah hingga keatas. Namun sekali lagi si katak seakan tidak peduli.

Akhirnya penghargaan pun diberikan, semua kataknpeserta lainnya ingin tau bagaimana katak ini bisa melakukannya, bisa mencapai puncak, padahal setengah lebih jatuh sebelum menaiki bukit, setengahnya lagi seperempat jalan, dan sisanya setengah jalan ke puncak.

Seekor peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Namun katak tersebut tidak merespon. Sampai diantara kerumunan penonton keluar seekor katak setengah baya dan memeluk katak yang memenangkan perlombaan.

katak setengah baya ini kemudian menjelaskan bahwa ternyata katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

Kata bijak dari cerita ini adalah:
Betapa dalam perjalanan hidup kita seringkali kita bertemu dengan manusia-manusia negatif. Mereka bukan orang-orang jahat, tetapi mereka suka berbicara hal yang negatif baik terlihat maupun tidak terlihat. Baik bermaksud maupun sekedar guyonan.

Seringkali mereka adalah teman curhat, Sebuah hubungan bisa putus hanya karena curhat kepada orang yang salah, curhat hanya dapat membantu memberikan pandangan. Bukan keputusan. Karena setiap manusia berada dalam "sepatu"nya masing-masing. Bagaimana kita melihat kehidupan orang lain secara pasti dan merasa bahwa kita benar, karena apa yang kita pikirkan adalah dari pengalaman serta ukuran kepribadian dan ketahanan diri sendiri terhadap masalah, tekanan, hambatan maupun cobaan.

Penonton akan selalu lebih pintar daripada pelaku. Itu mengapa pada permainan sepakbola jarang sekali komentatornya yang merupakan pemain terkenal ataupun legendaris. Para pensiunan legendaris memilih jalan menjadi pelatih, penonton pasif, pemegang saham klub liga ataupun penasehat klub. TIDAK MENJADI KOMENTATOR!!!

Begitupun dengan orang-orang yang memiliki jiwa sukses, mereka tidak akan lemah terhadap suara-suara disekelilingnya. Mereka percaya penuh pada apa yang mereka pilih. Bila mereka ingin mencari nasihat ataupun solusi, mereka akan bertemu dengan pakarnya, bukan pada bincang-bincang arisan maupun cangkru'an warung kopi walaupun hal itu kadang bisa menjadi pembuka dalam sebuah hubungan yang serius selama bertemu dengan orang yang tepat.

Bila hari ini kita belum mencapai target dalam pekerjaan kita masing-masing, mungkin karena kita tidak yakin dengan apa yang bisa dihasilkan dari pekerjaan kita. Ada banyak alasan untuk mencapai dan sebaliknya ada banyak alasan juga sehingga targetnya tidak tercapai. Pertanyaannya apakah setiap saat kita terus melakukan hal maksimal untuk mencapai target impian kita? Kesuksesan ibarat lomba lari, dimana kita berhenti, selama kita tidak berpaling, maka kita akan lebih dekat kepada garis finish. Entah mau dicapai dalam sekian menit seperti pelari profesional, sekian puluh menit, sekian jam, sekian hari, sekian bulan, sekian tahun, garis finishnya tidak berubah. Namun apakah kita mau berlama-lama di posisi stagnan? Tidak maju maupun mundur? Hanya berdiam menunggu keajaiban garis finish yang mendatangi kita? MUSTAHIL!!!

Suara-suara sumbang disekeliling kita juga membuat kita ragu-ragu dengan kemampuan diri sendiri. INGAT!!! TUHAN MENCIPTAKAN MANUSIA MENURUT YANG TERBAIK, MERENCANAKAN YANG TERBAIK, dan bila hari ini kita diberikan jalan oleh Tuhan, maka saya percaya bahwa setiap person, setiap jalan, setiap langkah itu adalah jodoh dan rencana-Nya. Tidak boleh sama sekali meragukan Tuhan dan rencana-Nya. Masalahnya manusia seringkali lebih percaya teman curhat daripada Tuhan.

Mungkin karena bila curhat kepada Tuhan seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mungkin karena Tuhan tidak secara fisik membelai dan menghibur manusia, mungkin karena manusia butuh pembenaran dan rasa simpati, padahal Tuhan tidak pernah mengajarkan agar manusia mencari simpati. Tuhan mengajarkan manusia untuk menjadi tegar dan menyelesaikan tugas serta cobaan yang diberikan, menjadi berkat bagi orang lain.

Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan
negatif ataupun pesimis, karena mereka akan mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu. KARENA HANYA TUHAN DAN DIRI SENDIRI yang mampu membuat sesuatu menjadi nyata. Tuhan merencanakan, manusia melakukan maksimal dan Tuhan mengijinkan hal tersebut tercapai dalam hidup kita.

Bagian mana yang paling sulit dalam langkah menuju sukses? Bagian memposisikan pikiran positif! Pikiran ibarat air yang mengalir kemana-mana, semakin rendah tempat dia mengalir maka akan semakin cepat sampai. Air membutuhkan dorongan untuk naik keatas, ibarat air tanah yang menggunakan pompa. Bila kita ingin airnya keluar, maka kita harus terus memompa tanpa berhenti. Sesaat kita berhenti, maka airnya turun kembali dan berhenti mengalir. Demikian dengan pikiran, bila kita ingin selalu positif, jaga pikiran kita, pompa terus agar pikiran-pikiran positif terus naik dan dekatkan diri kita dengan orang-orang positif, buku positif serta perilaku yang positif. Karena segala sesuatu yang kita dengar dan kita baca bisa mempengaruhi perilaku kita.

Tetaplah selalu POSITIVE!

Dan yang terpenting:
Berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa
menggapai cita-citamu!

Selalu berpikirlah I can do this!

HAPPY SUNDAY, SEMOGA BERKAT BERLIMPAH DALAM SETIAP JALAN YANG KITA LALUI KITA, SEMOGA KITA BISA MENCAPAI YANG TERBAIK DARI DIRI KITA DAN MENCAPAI PUNCAK KESUKSESAN :)

SABBE SATTA BHAVANTU SUKKHITATTA :)

Kamis, 14 November 2013

Tuhan itu baik dan Maha Kaya serta Pemurah

Seorang anak memberitahu ibunya kalau sesuatu tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Ia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu, ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya. Dengan senang hati, anak itu berkata, “Tentu saja, aku suka kue.”

“Nah, sekarang cicipi mentega ini,” kata ibunya menawarkan.
“Yaiks,” ujar anaknya.

“Bagaimana dengan telur mentah?”
“Ah, Ibu bercanda nih..”

“Mau mencoba tepung terigu atau baking soda?”
“Bu, semua itu kan tidak enak dan menjijikkan!”

Lalu sang ibu menjawab, “Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi, jika dicampur jadi satu melalui sebuah proses yang benar, maka akan jadi kue yang enak.”

Kadang kita bertanya dalam hati dan menyalahkan Tuhan, “Apa yang telah saya lakukan kok saya harus mengalami semua ini?” atau “Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi pada saya?”

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya mengapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, agar menjadi sempurna tepat pada waktunya.

Catatan:
Seringkali kita selalu merasa SUDAH MELAKUKAN KEHIDUPAN ini dengan maksimal, namun seringkali pula semua yang kita dapatkan belum sesuai dengan harapan kita.

Seorang teman bijak saya pernah berkata:
Kadang kita heran dengan kehidupan orang yang tidak pernah berubah padahal "terlihat" sudah bekerja dengan sangat keras. Tapi mungkin saja Tuhan belum bisa mempercayakan kepadanya hal-hal yang besar termasuk dengan kehidupan yang "besar" dikarenakan hal-hal yang tidak "terlihat" oleh kita.

- Orang itu mungkin jujur, tetapi dia sering mengeluh, sehingga Tuhan khawatir bila mempercayakan kehidupan yang besar kepadanya dia tetap tidak bisa berucap terima kasih.
- Orang itu mungkin baik, tetapi tidak cukup keras meyakini bahwa hari ini berkat akan berlimpah kepadanya, sehingga Tuhan khawatir apabila memberikan berkat yang besar maka dia tidak akan berusaha lebih keras lagi karena terlalu dimanjakan.
- Orang itu mungkin ramah, tetapi tidak cukup tulus dalam melakukan sesuatu, selalu menghitung berapa banyak yang akan dia dapat. Sehingga Tuhan merasa bahwa dia belum pantas diberikan hadiah atas apa yang dia lakukan.
- Orang itu mungkin cerdas tetapi tidak cukup menggunakan kecerdasannya untuk berusaha lebih giat, sehingga Tuhan khawatir dan menyiapkan berkat selangkah darinya untuk menunjukkan bahwa dengan melangkah maka berkat itu akan turun padanya.

Saya percaya kita semua orang yang beragama dan percaya akan kebesaran Tuhan, percaya bahwa Tuhan itu pemurah, Tuhan itu pengasih, Tuhan maha kaya dan maha penyayang. Sehingga TIDAK MUNGKIN Tuhan akan meletakkan kita dalam kondisi menggenaskan dan sengaja menghukum kita.

Sayangnya mungkin sekali sebagian diantara kita adalah orang-orang yang seperti disebutkan diatas. Mulailah berubah hari ini, bersyukur setiap saat, melakukan semua yang terbaik sehingga berkat itu datang kepada kita. Jangan mengeluh dan melakukan sekedarnya saja, karena hari ini tidak pernah akan kembali lagi. Tidak ada orang yang akan diberikan reward atas hal-hal yang biasa dia lakukan, setiap manusia harus berdiri lebih tinggi untuk menunjukkan bahwa dia pantas dihargai lebih daripada orang kebanyakan.

Semoga kita semua penuh dengan limpahan berkah hari ini, sehingga dalam setiap jalan yang kita lalui akan penuh dengan taburan kesuksesan.

Irfan Utamin

Sekolah Kehidupan

Suatu hari seorang murid dan Gurunya berjalan menuruni gunung menuju ke kota. Di dalam perjalanan, mereka menemukan anak sungai yang aliran airnya tidak terlalu deras. Saat itu Sang Guru melangkahi sungai dengan sangat mudahnya meski sungai tersebut cukup lebar.

Sang murid yang melihat hal tersebut sangat kagum dengan gurunya. Gurupun memintanya untuk mengikuti langkahnya. Murid itu merasa tidak mampu melangkahi sungai tersebut hanya dengan satu langkah lebar, maka ia pun berjalan mundur dua langkah dan berlari kecil melompati sungai tersebut. Hap! Ia pun berhasil melompati sungai tersebut.

Semakin jauh perjalanan, rintangan yang dihadapi pun semakin berat. Murid itu mengikuti gurunya di belakang dengan sangat hati-hati.

Tibalah mereka di sebuah jurang yang cukup terjal, namun tidak terlalu lebar. Di ujung jurang tersebut Sang Guru melangkahkan kaki dengan yakin dan pasti berhasil menyeberangi jurang. Sang murid yang melihatnya sangat terkejut, Guru pun berkata.

“Ayo melangkahlah menuju sisi jurang ini. Lebar jurang ini sama seperti sungai yang kita lalui sebelumnya.”

Murid itu menunjukkan raut keraguan di wajahnya. Dengan seksama ia memperhatikan lebar jurang serta kedalamannya dan melihat ke belakang.

Dengan pasti ia mengambil lima langkah ke belakang dan bersiap menyeberangi jurang tersebut dengan berlari dan meloncat sekuat tenaga. Tepat sekali perhitungannya. Ia pun berhasil menyeberangi jurang berkar kecerdikannya.

Sesampainya di seberang jurang, Sang Guru mengelus lembut kepala muridnya sambil berkata, “Wahai muridku, tahukah engkau yang membedakan loncatanmu saat di sungai dan di tepi jurang? Walaupun dengan lebar yang sama, namun kau dapat melihat rintangan yang berbeda dari kedua hal. Karena itu kau mengambil langkah mundur yang lebih banyak saat loncat di tepi jurang untuk memastikan keselamatanmu.

Begitu juga dengan kehidupan. Saat tantangan hidup di depanmu lebih besar, kau harus melangkah mundur sedikit lebih banyak agar mampu mengatasi segala kemungkinan yang ada dan meloncat lebih tinggi.

Saat kamu mengalami suatu kemunduran dalam hidup, entah itu kegagalan, jatuh, dikhianati, mungkin itulah langkah mundurmu agar dapat melompat lebih tinggi dan meraih setiap kesuksesan.

Cat:
Sayang sekali dalam menghadapi cobaan dalam hidup banyak orang yang lebih suka berkeluh kesah dan "curhat" daripada duduk dan berpikir dengan tenang. Andaikatapun kita membutuhkan sebuah masukan, penting sekali untuk memilih dengan siapa kita bisa bertukar pikiran serta apa tujuan kita bertukar pikiran. Yang pasti bertukar pikiran adalah untuk maksud sebuah tujuan yang benar atau mencari kebenaran dan bukan mencari pembenaran.

Semoga bila kemudian ada masalah dan kesulitan datang menghampiri, kita bisa mendengar bisikan kesabaran bahwa sebentar lagi kesuksesan akan segera menggantikan. 

Irfan Utamin

Keputusan Elang Muda

Hari ini adalah hari penting bagi para elang muda. Selama ini elang muda selalu bergantung pada elang tua untuk menggambarkan perjalanannya. Mereka sedang mempersiapkan penerbangan pertamanya dari sarang. Membangun kepercayaan diri ternyata tak muda, apalagi ini untuk memenuhi takdir mereka yang harus bisa terbang.

“Seberapa jauh saya dapat melakukan perjalanan?” tanya seekor elang muda. “Seberapa jauh Kau dapat melihat?” Elang tua menanggapi.
 
“Seberapa tinggi aku bisa terbang?” tanya elang muda yang kedua.
“Seberapa jauh kau bisa meregangkan sayapmu?” tanya elang tua.

“Berapa lama saya bisa terbang?” tanya elang muda itu pertama.
“Seberapa jauh cakrawala?” balik tanya elang tua.

“Berapa banyak yang harus saya impikan?” elang muda pertama itu tetap bertanya.
“Berapa banyak yang bisa bermimpi?” elang tua itu tersenyum bijaksana.

“Berapa banyak yang bisa saya capai?” terus tanya elang muda kedua.
“Berapa banyak yang bisa percaya?” elang tua itu menantang.

Frustasi karena merasa diolok-olok, elang muda pertama dan kedua serempak bertanya lagi, “Mengapa Anda tidak menjawab pertanyaan kami?” “Sudah saya lakukan,” jawab elang tua.

“Ya. Tapi kau menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.”
“Aku menjawab yang terbaik yang saya bisa.”

“Tapi kau Elang Tua. Kau seharusnya tahu segalanya. Jika kau saja tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, lalu siapa yang bisa menjawabnya?”

“Kau sendiri,” elang tua itu dengan bijak meyakinkan.
“Aku? Bagaimana caranya?” kedua elang muda itu bingung.

“Tidak ada yang bisa memberitahumu seberapa tinggi kau bisa terbang atau berapa banyak kau bermimpi. Akan berbeda pada setiap elang. Hanya Tuhan dan Kau sendiri yang tahu seberapa jauh kau pergi. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu potensimu sendiri atau apa yang ada di hatimu. Kau sendirilah yang bisa menjawab itu. Satu-satunya hal yang membatasimu adalah imajinasimu.”

Kedua elang muda masih bingung, dan bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?”
“Lihatlah cakrawala, lebarkan sayap, dan terbanglah.”

Elang muda pertama walaupun dalam keadaan bingung tetapi berusaha melakukan yang terbaik, dia memicingkan matanya, mengepakkan sayap mudanya yang lebar dan mulai melakukan perjalanannya terbang mengarungi angkasa. Dia meyakinkan dirinya untuk terbang dengan sepenuh hati dan sampai keujung dunia.

Sedangkan elang muda yang kedua ragu-ragu dan terbang sambil penuh dengan kecurigaan. Dia merasa bahwa elang tua terus mempermainkannya dan tidak mau memberitahu yang sebenarnya. Pikirannya penuh dengan segala tantangan yang dia percaya akan berada didepannya. Bagaimana kalau dia capai dan tepat berada diatas lautan? Bagaimana kalau dia merasa lapar dan kemudian berada diatas gurun yang gersang? Bagaimana bila dia akhirnya bertemu dengan calon pasangan hidupnya dan kemudian mereka bertelur? Bagaimana bila telur-telurnya kemudian dimakan oleh predator? Semua pikiran itu begitu memenuhi otak elangnya sehingga dia memutuskan untuk mencari tempat nyaman yang terbaik, bukan di laut, bukan di gurun dan bukan di hutan tapi tempat asal dia ditetaskan, karena menurutnya disitulah dia berasal. Dia menunggu disana bertahun-tahun dan terus melihat elang muda lainnya yang jauh lebih junior daripadanya terus mencapai cita-cita mereka.

Hingga suatu saat si elang muda pertama yang kini telah menjelma menjadi elang tua yang bijaksana kembali ke tanah kelahirannya bersama serombongan elang-elang muda lainnya. Tiba-tiba elang pertama ini menundukkan kepalanya dan memicingkan mata dan langsung mengnali teman mudanya dulu. Dia menukik dan turun sambil melambai pada elang-elang muda lainnya untuk terus melanjutkan perjalanan, dia akan mampir sebentar menyapa teman mudanya.

Begitu dia mendarat, dia langsung terkekeh dan berucap "akhirnya kita bertemu lagi sobat, kau juga pulang bersama keluargamu ke tanah kelahiranmu?" Si elang muda kedua yang kini telah menjadi elang tua terdiam sejenak dan berkata "keluargamu? Apakah semua tadi adalah keluargamu?"

Si elang tua pertama terkekeh kembali dan berkata "ya, sebagian dari mereka adalah anak, menantu dan cucu-cucuku, sisanya adalah teman dari istriku dan keluarga mereka" kemudian dia melanjutkan "mereka tertarik begitu kuceritakan tentang kampung halamanku, bertahun-tahun aku mengarungi angkasa, bertemu dengan pasangan hidup terbaikku dan menetaskan anak-anak kami, melihat mereka tumbuh dan mengajarkan hal yang sama untuk mengarungi angkasa dengan gagah" kemudian dia terdiam "oh maaf, au terlalu banyak biacara, bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan selama ini?"

"Aku.... aku tidak melakukan apapun, sejak saat si elang tua itu menyembunyikan rahasia kehidupan aku menunggu disini sehingga dapat mempersiapkan yang terbaik bila aku memiliki keluarga"

"Heh? Kamu hanya berdiam disini? Hmmm,, kamu elang pertama yang kudengar melakukan hal itu" elang tua pertama terkekeh lagi.

"Dan dimana keluargamu? Apa mereka akan segera kembali?"

Dengan malu si elang tua kedua berkata terbata-bata "aku.... aku tidak punya keluarga...." kata-kata ini membuat kening elang tua pertama berkerut "heh? Bukannya tadi kau bilang bahwa kau menyiapkan tempat yang terbaik untuk keluargamu? Kenapa sekarang kau bilang kau tidak memiliki keluarga?"

"Ya aku rasa aku salah melakukan hal ini, aku menunggu dan terus menunggu sehingga impianku datang tanpa melakukan apapun juga. Aku hanya berdiam diri berharap suatu saat nanti rahasia kehidupan akan pecahndidepan mataku dan aku siap untuk menerimanya"

"Namun ternyata elang tidak pernah ditakdirkan untuk menunggu, elang ditakdirkan untuk mengarungi dan menjadi penguasa angkasa. Terbang dengan gagah dan mencari pecahnya rahasia kehidupan. Aku iri melihat kau sahabat, kau memutuskan untuk terus terbang walau sedikit bingung. Kau percaya pada elang tua bijaksana, sedangkan aku hanya meratap dan menunggu"

"Kau tau disaat aku muda begitu banyak elang betina cantik yang menoleh kearahku. Mereka turun dan bertanya apakah aku terluka dan kubilang tidak. Aku hanya menunggu kesempatan datang. Beberapa diantara mereka ikut berdiam hingga beberapa hari namun karena tidak puas dengan menunggu, mereka kemudian mencari pengharapan baru. Sedangkan lainnya bahkan langsung pergi sesaat setelah aku bilang menunggu disini untuk kesempatan bagus"

Si elang tua pertama tertawa kemudian dia berkata "wahai sahabat, elang tidak pernah ditakdirkan untuk hidup laksana ayam, itik atau unggas biasa lainnya. Elang ditakdirkan untuk menggapai lebih tinggi. Oh maaf, anakku kembali mencariku, selamat tinggal sobat, semoga kau menemukan apa yang kau cari"

"Eeee, bolehkan aku ikut denganmu?" Tanya si elang tua kedua, "wow boleh sekali, lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Ayo sobat kita arungi angkasa ini"

Catatan:
- Siapa yang pernah men-judge kita untuk hidup layaknya ayam, itik atau unggas biasa lainnya seperti cerita diatas selain diri kita sendiri? Saya rasa tidak satupun hal di dunia yang dapat menentukan mau jadi apa kita selain diri kita sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa.
- Saya percaya bahwa setiap manusia dilahirkan sebagai pemenang ibarat Elang diatas, memiliki kesempatan hidup yang sama dan memiliki kesempatan mengakhiri hidupnya sebagai siapa. Bila kita memilih sebagai elang pertama maka kita akan bertabur dengan berkat bukan karena sekedar keberuntungan, namun karena kita berusaha sehingga dapat menggapai cita-cita dan impian kita. Bila kita memilih sebagai elang kedua, maka itupun pilihan kita. Kita sendirilah yang memilih mau menjadi apa. Namun apapun pilihan kita akan memiliki konsekuensi. Rumput tetangga mungkin terlihat lebih hijau, tetapi siapa yang tahu tagihan ledeng-nya berapa banyak? Hehehe
- Kemenangan itu bermacam-macam, ada yang menang tinju, ada yang juara kelas, ada yang menang lomba masak, ada yang menang pentas seni, ada yang menang atas kecantikannya, ada yang menang karena keunikannya (Rekor-rekor MURI), ada yang menang sebagai guru teladan, ada yang menang sebagai pemimpin terbaik, ada yang menang sebagai parents of the year, dan ada yang menang tender, ada yang menang dari penyakit, ada yang menang menahan hawa nafsu. So, dalam hal apa kita ingin kemenangan kita terjadi? Yang pasti memenangkan sesuatu BUKAN karena menunggu, namun karena berusaha yang terbaik sehingga kemenangan itu pantas buat kita.
- Putuskanlah hari ini untuk mencari rahasia kehidupan, mempelajarinya dan menaklukkannya sehingga saat masa tua datang, kita tidak pernah menyesali apa yang sebenarnya dapat kita lakukan. Karena kita telah berusaha untuk menjadikan kehidupan kita luar biasa.

Semoga berkat terus berlimpah bagi kita semua, semoga sukses selalu.

Irfan Utamin

Jumat, 09 Desember 2011

CERITA KATAK KECIL & HUJAN

Seekor anak katak sangat takut saat langit tiba2 gelap. "Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba2 gelap?" ucap anak katak sambil berpegang erat pd induknya. Sang ibu menjawab dengan senyuman,

"Anakku, itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu pertanda baik." jelas induk katak. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu? " tanya si anak katak sambil bersembunyi.

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk. "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya dengan tenang.

"Blarrr!!!" suara petir menyambar nyambar. Kilatan cahaya putih menjadikan suasana begitu menakutkan.

"Sabar, anakku!" ucapnya. "Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak dengan tenang.

Anak katak itupun keluar dari balik tubuh induknya. Ia mendongak, memandangi langit yg hitam, angin yg meliuk-liuk, & sambaran petir yg begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang! Horeeee!"

Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yg tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang2 rupawan. Tidak disegarkan dgn wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang sangat ketakutan saat langit hitam, angin yang bertiup kencang, & kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

Benar apa yg diucapkan induk katak: Jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar & hadapi saja. Bersama kesukaran akan ada jalan.

Ibu Katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, jika TUHAN berkehendak pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan. Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita di atas ialah di balik sesuatu yang mengerikan dan menyeramkan pasti akan ada kebaikan di sana, seperti cerita di atas datangnya hujan di awali dengan sesuatu yang mengerikan seperti langit menjadi gelap, angin bertiup sangat kencang, dan petir yang menggelegar tetapi setelah itu kebaikan akan datang yaitu hujan, yang kemudian dengan hujan itu bisa mendatangkan berbagai macam kebaikan seperti hilangnya kekeringan, dapat mengairi sawah dll. Contoh lain yang bisa kita ambil ialah buah durian, jika dilihat dari manapun durian itu sangat menyeramkan, kulitnya keras berduri dan sangat tajam, tetapi coba kita lihat dalamnya sangatlah berbeda dengan keadaan di luarnya.

Pesan.. janganlah melihat / menilai sesuatu dari sudut pandang yang sempit tapi lihatlah secara keseluruhan karena sesuatu yang kita anggap tidak baik belum tentu hasil akhirnya juga akan tetap tidak baik melainkan sebaliknya

Don't ever, ever give up!!!!

Sumber: http://putratwomixs.wordpress.com/2011/01/09/anak-katak-dan-hujan

Sabtu, 30 Juli 2011

Seumur Hidup Jadi Tongkat Bagi Ibunda

Hawa udara di Changchun, Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi.......

Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.

“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……”

Sumber : Email Berantai - Stevanus Kohartono fr Liliana 1 Nopember 2008

KEKUATAN CINTA


Dia tingginya 175 cm , sedangkan aku 120 cm Kami berdua tingginya berbeda 55 cm, seperti raksasa dan org kerdil, bukan?

Tapi saat ini kami berdua, tingginya sudah sama..karena .. kecintaan 55 cm ini.

Hari ini cerita cinta kami yg indah ..

Sejak lahir Ms. Yu Son A mempunyai tulang yg tipis seperti kulit telur, sehingga dengan bersin saja, bisa mengakibatkan tulang patah. Dengan mudah patah dan tulang muda (lembut), Tingginya cuman bisa mencapai 120 cm, tapi dia tetap sehat seperti org biasa. Waktu ditanya: Sulitkah waktu berjalan dengan tongkat waktu bekerja, jawabnya: dengan adanya 4 kaki, saya bisa bekerja lebih cepat. Dengan jawaban ini, orang memanggil dia "Thumbe lina " karena dia kecil tapi bisa berdiri sendiri.

Kemudian Thumbelina berkenalan dengan seorang lelaki muda, cakep, tinggi 175 cm. Tahun ini (2008) dua sejoli ini mengadakan perkawinan yang sempurna dan indah di gunung Himalaya. Dimana perkawinan ini diadakan di dusun yang paling tinggi di dunia, dengan ketinggian 2750 dari laut. Pengantin pria dan wanita mengenakan pakaian yang indah dengan dihadiri dengan hadirin yg banyak.

Diatas adalah foto dalam suara hening di pantai saat ini, suami sedang mengendong, bersama tongkatku, di punggungnya. Dari gambar ini dapat mengambarkan kehidupan dari Khun Yunsona dalam kehidupan aslinya. Bersama dengan suami yang paling baik diseluruh dunia. Bisa dilihat, dengan tidak memandang cacat, tinggi badan, akan tetapi bisa mendapat kehidupan cinta yang indah/normal.

Semoga kisah ini menginspirasi kita semua tentang cinta tanpa batas :)

Sangat menyentuh, gambar terakhir maknanya hebat kan? "berdua menghadapi lautan kemungkinan yg ga terbatas"

Sumber : Email berantai - Stevanus Kohartono Nopember 2008

Sabtu, 17 Juli 2010

Who Am I

Nggak gampang untuk terus berpikir positif selama diri kita dalam keadaan terjepit ataupun kesusahan.

Nggak gampang pula untuk terus percaya akan sebuah harapan dimana jelas-jelas kehidupan kita jauh dari apa yang kita inginkan.

Untuk ini saya punya cerita bagus yang mungkin bisa menginspirasi kita semua. Saya sendiri nggak yakin saya dapat melakukannya seandainya berada diposisinya, dan bahkan tidak mau berpikir sama sekali kearah sana. Namun kisahnya menarik untuk diceritakan.

Ini adalah cerita tentang seorang tahanan di dalam sebuah camp kerja paksa.Waktu itu ada suatu perang, suatu kelompok tahanan ditahan oleh paraserdadu dan mereka semua setiap hari disiksa. Tapi ada satu orangtahanan yang tahan terhadap siksaan, dia bukannya mengeluh, setelahdisiksa dia bukannya menangis, dia tidak menjerit tapi yang dia lakukan adalah pada saat disiksa dia hanya diam, menggertakan gigi menahan siksaan tersebut dan kemudian setelah siksaan itu berakhir, waktu dia kembali ke selnya, dia akan bersenandung dan besok pagi pada waktu semua tahanan berkumpul di tengah lapangan, dia akan berjalan ke tengah lapangan dan dia akan menyanyi, dia akan mengambil gitarnya, dia akan memainkan lagu-lagu yang indah, lagu-lagu yang ceria, dia katakana "Hidup ini indah".

Dia terus memberikan pengharapan pada orang-orang yang ada di sekitarnya.Para penjaga marah melihat kelakuan orang tersebut, mereka merasa orang tersebut melecehkan, tahanan yang kurang ajar, makanya mereka memutuskan untuk mengambil alat musik tersebut, sebuah gitar kecil. Besoknya apa yang terjadi?

Tahanan tersebut kembali ke tengah lapangan, kali ini tanpa gitar, tapi kali ini dia cukup hanya bernyanyi saja. Suaranya tidak merdu tetapi dinyanyikan dengan jiwa, terasa begitu menyentuh. Dia terus menyanyi, menyanyi, menyanyi. Dan saat itu para penjaga menjadi sangat marah sekali, mereka bergegas mendatangi orang tersebut dan dia langsung dihantam, dipukul, ditendang, disakiti. Besoknya, masih dengan wajah yang bengkak-bengkak dengan tubuh yang kebiruan, dia kembali ketengah lapangan dan dia kembali menyanyikan lagu yang sama.

Penjaga menjadi sangat marah sekali, akhirnya mereka mengambil orang tersebut,menyeretnya dengan memegang rambutnya, lalu mereka mengeluarkan sebuah pisau dan memotong lidahnya. Mereka berkata, "Saat ini lidahmu aku potong, dengan demikian kamu tidak bisa menyanyi lagi."

Anda tahu apa yang dilakukan orang tersebut keesokan harinya? Keesokan harinya dia berjalan ke tengah lapangan, dengan rasa sakit yang luarbiasa dan darah bercucuran dimana-mana, dia sudah tidak bisa menyanyi,tapi apa yang dia lakukan? Yang dia lakukan adalah dia menepuk-nepukkan tangannya.

Dan Anda tahu? Para penjaga begitu marahnya, para penjaga begitu tersinggung, mereka langsung serentak berlari ke arah tahanantersebut, dan mereka mengeluarkan sebilah pedang dan mereka menebas kedua tangan itu, putus. Akhirnya teman-temannya menolong tahanan yang sudah kehilangan kedua tangannya. Pada saat terseret, orang tersebut masih tersenyum.

Dalam kesakitan dia masih tetap tersenyum. Dia diobati oleh teman-temannya. Anda tahu apa yang terjadi keesokan harinya? Keesokan harinya, para penjaga terpaku melihat pemandangan di tengah lapangan, mereka memandang ke tengah lapangan dengan mulut terbuka,dengan penuh kekaguman, mereka melihat tahanan tersebut tanpa lidah,tanpa tangan, dia menari dengan badannya, dan dari tariannya, dari gerakannya, orang seakan-akan mendengarkan nyanyian yang sangat merdu.

Sebuah nyanyian tentang kebebasan.Anda mengerti apa maksud dari cerita ini? Dan ini adalah kisah nyata Saudara. Kisah nyata tentang seorang yang tidak membiarkan kebebasannya, kemerdekaannya, dan kebahagiaannya dirampas oleh orang lain. Karena dia sangat mengerti bahwa yang namanya kebahagiaan, bahwa yang namanya kebebasan, bahwa yang namanya kemerdekaan, kemerdekaan akan rasa tersiksa, kemerdekaan akan rasa terjajah, itu adalah hak dari setiap orang. Anda mempunyai hak untuk menjadi orang yang luar biasa. Anda memiliki hak untuk menjadi orang yang bisa dibanggakan.

Bila segala sesuatunya telah hilang dari diri kita, yang jelas kita masih "kita". So just learn how to be better and do the best.

Get Your Freedom & Make Your Dreams Come True! Best Regards

Sumber : Unknown.

Kamis, 08 April 2010

Roda Kehidupan

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu diperhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei….semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

Begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil yang sebetulnya menyenangkan. Namun, kita lewatkan begitu saja karena terburu-buru dan tergesa-gesa.

Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik dan lupa bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Coba susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.

Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan tidak pernah kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan masa lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!!

Sumber : resensi.net

Jumat, 05 Maret 2010

Promosi Neraka

Suatu hari ada orang yang baik hati meninggal dunia, orang ini kemudian pergi kealam akhirat. Dan di sana dia bertemu dengan hakim akhirat. Setelah bukunya dibuka-buka, hakim akhirat mengatakan, “ Anda orang baik-baik dan mempunyai hak untuk masuk surga. Tetapi special untuk Anda boleh memilih masuk surga atau masuk neraka.”
“Pak Hakim, saya masuk surga saja.”
“Nanti dulu, lihat dulu.”

Besok paginya orang baik-baik ini diajak oleh hakim akhirat melihat-lihat surga. Pintu surge dibuka, wah…sepi. Isinya : pemimpin agama, berdoa, bermeditasi, diam. Dingin, tidak ada keramaian.
“Bagaimana, Anda mau tinggal di sini?” Tanya hakim akhirat.
“Ya, saya mau di sini, Pak Hakim.”
“Nanti dulu, lihat neraka dulu, supaya bisa membandingkan,” Lanjut sang hakim.

Besoknya orang itu diajak masuk neraka. Pintu neraka dibuka. Dia masuk, wah...disko-disko, minum-minum, senang-senang, penuh keakraban, kehangatan. Wah, ini lebih menarik.
“Bagaimana, kamu pilih mana sekarang?”
“Saya di sini saja, Pak Hakim. Di surga sepi, semua berdoa, bermeditasi, dingin-dingin saja, tidak ada keramaian.”
“Ya baik, besok mulai masuk neraka.” Lalu mereka pulang ke kantor hakim akhirat.

Keesokan harinya orang itu diantar masuk neraka. Pintu dibuka dan dia masuk. Begitu dia masuk, pintunya langsung ditutup, dan apa yang terjadi? Api menyala-nyala, orang menangis, tersiksa, mengerikan sekali, merintih-rintih, menjerit-jerit. Lho! Dia kaget. Kemarin tidak begini, mengapa sekarang seperti ini? Hakim akhirat berkata, “ Jangan kaget, kemarin adalah hari terakhir promosi neraka!”

Cerita di atas memang hanya cerita rekaan. Tetapi saya piker, promosi neraka itu sudah sampai juga ke bumi ini. Banyak orang terpikat untuk melakukan kejahatan.

Sumber : Buku Bersahabat dengan Kehidupan
Bhante Sri Pannavaro
(Diambil dari Forum Diskusi Dhamma For Kids, kiriman Lai Agustina)

Sabtu, 30 Januari 2010

Sudah tepatkah keberadaan anda sekarang?

Posted By : -Kanezane Arihyoshi-

Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama. Ketika tiba harinya, sebuah truk datangke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan besama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah :

Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama.

Meaning:
Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.

Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan
diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil. (Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA

SALAM PERUBAHAN MENJADI LEBIH BAIK.....