Sabtu, 30 Januari 2010

Impian Stylish vs BreadTalk & J co Donut


Pernahkah kita melewati stand J.Co Donuts di Plaza ataupun Mall di kota kita?

Apa yang terlintas pertama kali dalam otak kita?

Well, saya kurang tahu dengan apa yang terlintas dalam pikiran anda. Tetapi yang jelas hal yang pertama kali terlintas dalam otak kecil saya adalah "Franchise asing menyerbu lagi". Baru sekian waktu kemudian saya baru tahu bahwa pendiri sekaligus pemilik dari J.Co Donuts adalah asli orang Indonesia, yang tak lain kita kenal sebagai stylish terkenal pemlik tak kurang dari 168 jaringan salon dan 40an sekolah salon, yaitu Jhonny Andrean.

Pertama salon, sekolah salon, belajar menjadikan usahanya franchise, memegang bakery boutiq terkenal asal Singapura ; BreadTalk sebagai Master Franchise dan akhirnya menjadi pendiri Doughnut Boutiq ; J.Co Donuts.

Banyak orang melakukan diversifikasi usaha namun masih dalam bidang yang sama. Misalnya seorang chef membuat restoran, kemudian pabrik bumbu dapur dengan brand pribadi. Namun seorang Jhonny Andrean melakukan inovasi dan perubahan yang berbeda.
Setidaknya setelah memiliki salon kemudian banyak produk kecantikan rambut yang akhirnya menjadi salah satu market leader dalam bidangnya, Jhonny berubah haluan menggaet bisnis makanan tanpa mengorbankan apa yang sebelumnya sudah dibangun.

Mungkin awalnya Jhonny tidak menyangka bahwa franchise yang diboyong dari negeri singa laut sejak 2003 silam akan menyedot konsumen lebih dari 1500 orang per harinya dengan hitungan kasar wilayah surabaya dan sekitarnya.

Antrian panjang yang sering terlihat di gerai-gerai BreadTalk seolah menjadi tren baru gaya hidup orang di kota besar. Gerai transparan yang menunjukkan proses pembuatan serta wangi khas rotinya memancing pengunjung untuk mampir. Gaya dapur terbuka dan transparan yang diterapkan BreadTalk merupakan salah satu upaya untuk menunjukkan secara langsung kepada konsumen bahwa roti yang dijual benar-benar fresh from the oven.

Saat ini, setiap gerai menjual sekitar 150 macam roti. Untuk menjaga kualitas, semua roti BreadTalk hanya dijajakan dalam sehari. Artinya, roti yang tidak terjual hari itu akan dimusnahkan dan tidak akan dijajakan pada keesokan harinya. Hal itu sesuai dengan konsep BreadTalk, yakni fresh from the oven. Pemilihan bahan baku sangat selektif, pengolahan bahan baku termasuk resep roti, mengacu pada standar yang diberikan franchisor dan bersifat rahasia. Itu berarti, semua gerai BreadTalk mendapat pasokan bahan baku yang sama dari kantor pusat.

Setelah sukses dengan bisnis rotinya, Jhonny merambah dunia Donat. Dimana Donat di Indonesia adalah salah satu menu favorit. Masalahnya adalah Jhonny mau tidak mau berhadapan langsung dengan raksasa donat sebelumnya yang asli negeri Paman Sam.

Tak tanggung-tanggung, Johnny melakukan survey & research ke berbagai negara seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan berbagai negara Eropa sejak tahun 2000. Mimpinya adalah menciptakan donat yang sempurna bukan hanya untuk ukuran Indonesia, tetapi juga untuk seluruh dunia. Maka donat yang diciptakan bukan hanya harus enak tetapi juga sesuai dengan lifestyle yang ada saat ini.

J.Co adalah produk lokal dengan kesan yang dibuat layaknya toko-toko luar negeri. Padahal murni buatan lokal. Ini dilakukan untuk memberi kesan global dan international brand sehingga di belahan dunia manapun, J.CO akan lebih mudah diterima. Ini terbukti dengan 6 buah gerai yang tersebar di wilayah negara Malaysia dan 3 buah di wilayah Singapura (Berdasarkan data lokasi J.Co Donut ; http://www.jcodonuts.com/).

Yang paling unik dari kedua gerai yang dibidani oleh Jhonny tersebut adalah kemiripan dalam pembuatan nama produk yang unik. Nama-nama unik itu sengaja diciptakan agar konsumen penasaran dan mau mencoba. Itulah yang dimaksud dengan BreadTalk, yakni roti yang berbicara.

“Disini kami berbicara tentang rasa dan nama,” ujar Johnny Andrean.

Johnny mengakui bahwa jenis produk yang mereka jual sudah ada dari jaman dulu, baik donat maupun roti. Namun ia menciptakan inovasi baru sehingga memiliki selling power yang lebih dibandingkan dengan merek yang sudah ada sebelumnya. Follower tidak akan bisa memenangkan permainan. Hanya inovatorlah yang bisa menjadi leader.

So, apa yang hari ini sudah kita lakukan? Apakah kita sudah memiliki visi dan impian yang besar? Bila belum, janganlah takut untuk memiliki Impian yang tinggi. Bila diiringi dengan doa, pembelajaran dan tindakan yang benar dengan penuh konsstensi, maka hasil itu tidak akan jauh dari apa yang kita harapkan.

Semoga sukses selalu bertabur dalam setiap jalan yang kita lalui......

Surabaya, 29 Januari 2010


Irfan Utamin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar